
Balai Riset dan Standardisasi Industri Banjarbaru (BRSBB) salah satu unit kerja Kementerian Perindustrian, terus mengoptimalisasi pemanfaatan teknologi industri, serta penerapan standardisasi dan sertifikasi.
Kepala BRSBB, Budi Setiawan mengatakan, BRSBB terus mengembangkan pelayanannya kepada masyarakat terutama industri, khususnya industri di Kalimantan Selatan.
Kegiatan yang dilakukan diantaranya pengembangan aplikasi teknologi hasil rekayasa BRSBB. Sehingga semakin banyak industri yang menerapkan hasil-hasil rekayasa dari BRSBB.
Budi Setiawan menambahkan, selain optimalisasi teknologi industri, BRSBB juga siap mendampingi industri dalam hal penerapan SNI Produk serta penerapan sistem mutu -SNI ISO 9001-.
“Sehingga mutu dan kualitas produk industri terjamin,” tegas Budi Setiawan.
Seperti komoditas unggulan dari Kabupaten Balangan yaitu umbi maya -Amorphophallus muelleri-, BRSBB bersama Balitbangda Kabupaten Balangan dan Dinas Koperasi Usaha Kecil Mikro dan Perindustrian Kabupaten Balangan bersinergi mendampingi optimalisasi aplikasi teknologi industri kepada usaha Industri Kecil Menengah (IKM).
“Kerjasama dengan BRSBB dilaksanakan untuk mengetahui dan mengembangkan potensi dari umbi maya di Kabupaten Balangan. Selain pengembangan alat pemotong dan pengering untuk menjadikan produk chips umbi maya, juga dikembangkan produk-produk turunan dari umbi maya. Di antaranya tepung glukomanan dan bakso,” kata Aidinnor, Kepala Balitbangda Kabupaten Balangan.
Alat pengering dan pemotong serbaguna hasil rekayasa BRSBB telah diaplikasikan pada IKM umbi porang di Kabupaten Balangan. PERAK BIRU (Pengering Rak Baristand Industri Banjarbaru) merupakan salah teknologi pengeringan bahan pangan serbaguna.
“Pengering ini dapat digunakan untuk mengeringkan berbagai macam bahan pangan seperti umbi, kerupuk, cabai, ubi, tepung, dan lain-lain,” kata Aidinoor.
Alat ini mampu diatur suhunya sehingga dapat mengeringkan bahan pangan pada suhu konstan dan hasilnya tidak merusak sifat bahan yang dikeringkan.
“Alat pengering ini dapat membantu mengeringkan bahan pangan tanpa tergantung pada cuaca. Berbeda dengan pengeringan alami yang sangat tergantung cahaya matahari,” sebutnya.
Selain alat pengering, terdapat alat pemotong perajang umbi maya yang juga diaplikasikan di IKM. Alat ini sangat membantu petani porang, sehingga menjadi pengusaha chips -umbi kering porang-. Harga chips bisa mencapai 60-70 ribu rupiah per kilogram. Sedangkan harga umbi basah hanya sekitar 8 ribu rupiah per kilogram.
“Alat pemotong ini turut membantu IKM dalam memenuhi target ekspor porang perdana sebanyak 10 ton ke Jepang pada 12 April 2021 lalu,” beber Kepala Balitbangda Balangan.
Sumber : https://www.kanalkalimantan.com/brsbb-mendukung-optimalisasi-teknologi-industri-di-kalsel/